Admin
Posted on 2 years ago 1088x dibacaSemarang – Tari Tradisional merupakan suatu seni yang lahir dan tumbuh berkembang dalam suatu masyarakat kemudian diturunkan atau diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan kata lain, pengertian tari tradisional adalah jenis tarian yang merupakan wujud sebuah budaya di suatu daerah. Indonesia memiliki lebih dari 300 jenis tarian tradisional yang berasal dari wilayah yang berbeda.
Desa Bejalen adalah salah satu desa di Kota Ambarawa Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Kota Ambarawa sendiri memiliki tradisi Larung Rawa Pening atau sedekah Rawa Pening. Ritual turun temurun ini sebagai bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat, terutama mereka yang mata pencahariannya petani dan nelayan. Selain itu tradisi yang belum dilestarikan adalah seni tari tradisional. Maka dari itu, Mahasiswa KKN dari IAIN Salatiga mengadakan pelatihan tari tradisional untuk anak- anak sebagai bentuk melestarikan kebudayaan Indonesia.
Tarian tradisional yang diajarkan adalah Tari Rampak dan Tari Indang. Tari Rampak merupakan jenis tari kreasi baru dan termasuk tari non dramatik karena tidak menyampaikan cerita atau drama. Tari Rampak pada dasarnya merupakan tari tunggal, namun juga dapat dibawakan secara berkelompok. Tari Rampak disajikan dalam tiga bagian yaitu bagian pembuka (penari masuk panggung), bagian isi (inti tarian), bagian penutup (penari keluar panggung). Tiap bagian tersebut dapat diibaratkan sebagai kelahiran, hidup, dan kematian.
Kemudian Tari Indang menjadi salah satu tarian khas dan populer dari Pariaman, Sumatera Barat. Tarian ini sering juga dikenal dengan nama Tari Dindin Badindin. Menurut Erlinda dalam buku “Menapak Indang Sebagai Budaya Surau”, Tari Indang merupakan salah satu kesenian tradisional yang sangat digemari masyarakat Pariaman. Tarian ini berhubungan erat dengan adat istiadat dan kebudayaan Islam di wilayah tersebut. Tujuan utama Tari Indang atau Tari Dindin Badindin ialah mengembangkan ajaran Islam kepada masyarakat. Sehingga musik dan syair yang digunakan sangat erat kaitannya dengan agama Islam.
Anak-anak yang ikut andil dalam pelatihan tersebut meliputi anak SD di Desa Bejalen. Pelatihan tersebut dilakukan kurang lebih sebanyak 10 kali pertemuan dalam 45 hari, dan closing acaranya yaitu uji tari dengan menampilkan Tari Rampak dan Tari Indang dihadapan masyarakat desa Bejalen.
“Saya senang mengikuti pelatihan tari ini, bisa menambah pengalaman dan ikut melestarikan budaya tari bersama kakak-kakak KKN IAIN Salatiga. Harapan saya kedepannya semoga tari ini bisa dikembangkan lagi sehingga budaya tari ini bisa dikenal oleh masyarakat.” ujar A’yun, salah satu peserta mengikuti pelatihan tari (6/2/2022).
Selain itu, respon anak-anak dan orang tuanya cukup positif terhadap pelatihan tari tersebut. Pelatihan tari ini dilaksanakan dua kali dalam seminggu lebih tepatnya pada hari Rabu dan Jum’at pukul 13.00 WIB. Pelatihan ini guna melestarikan budaya tari tradisional juga untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan yang positif.
Dengan berlatih tari tradisional anak-anak belajar menirukan anak yang sedang bermain dan para prajurit yang berlatih perang serta baris-berbaris. Pelatihan tari ini diselaraskan untuk anak-anak usia 5-8 tahun.